RESUME MATERI PKKMB UNUSA 2025 DAY 2


PERGURUAN TINGGI DI ERA DIGITAL DAN REVOLUSI INDUSTRI
Yang di sampaikan oleh Pak Ainun Najib, Ahli IT Indonesia.

Perguruan tinggi di era digital dan revolusi industri 4.0 mengalami perubahan besar dalam cara mereka menjalankan pendidikan dan perannya di masyarakat. Proses pembelajaran kini lebih fleksibel melalui platform digital seperti e-learning, MOOC, dan webinar yang memungkinkan mahasiswa belajar kapan saja dan di mana saja. Kurikulum juga terus menyesuaikan dengan perkembangan teknologi, mengintegrasikan kecerdasan buatan, big data, dan IoT, serta membuka program studi baru yang relevan dengan kebutuhan industri modern.

Selain itu, keterampilan yang dibutuhkan di era ini tidak hanya bersifat teknis, tetapi juga mencakup soft skills seperti kreativitas, kolaborasi, komunikasi, dan kemampuan memecahkan masalah. Untuk menunjang hal tersebut, perguruan tinggi memperkuat infrastruktur digital, mulai dari jaringan internet cepat, laboratorium virtual, hingga perangkat lunak kolaboratif yang mendukung kegiatan belajar, riset, dan inovasi.

Perguruan tinggi juga aktif menjalin kolaborasi global dengan universitas internasional, perusahaan teknologi, hingga startup untuk memperluas penelitian dan inovasi bersama, serta menyediakan program pertukaran mahasiswa maupun dosen, baik secara fisik maupun virtual. Dari sisi manajemen, evaluasi pembelajaran kini lebih berbasis data melalui learning analytics, yang memudahkan pemantauan kemajuan mahasiswa dan membantu pengambilan keputusan strategis di kampus.

Lebih jauh lagi, perguruan tinggi tidak hanya menjadi tempat belajar, tetapi juga pusat riset, inovasi, dan inkubasi bisnis. Kehadiran startup dan unit inkubator berbasis teknologi yang lahir dari kampus menunjukkan peran perguruan tinggi sebagai penggerak revolusi industri dan pencetak generasi yang adaptif terhadap perubahan. Dengan demikian, perguruan tinggi dituntut untuk terus beradaptasi agar dapat melahirkan lulusan yang tidak hanya berpengetahuan, tetapi juga kompeten, kreatif, dan relevan dengan tantangan global.


__________


GENERASI MUDA BERINTEGRITAS ANTI KORUPSI 
Materi yang disampaikan oleh Dr. Nurul Ghufron, S.H., M.H. -Wakil Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Korupsi adalah masalah serius yang merusak kehidupan berbangsa dan bernegara, merampas hak rakyat, menghambat pembangunan, serta meruntuhkan kepercayaan publik. Melawannya bukan hanya tugas aparat penegak hukum, melainkan tanggung jawab bersama seluruh masyarakat. Di sinilah generasi muda memiliki peran strategis sebagai kunci perubahan.

Generasi muda penting karena merekalah masa depan bangsa yang akan menentukan arah Indonesia. Energi, kreativitas, penguasaan teknologi, serta pola pikir kritis menjadikan mereka agen perubahan (agent of change) yang mampu menantang budaya korupsi yang mengakar. Integritas menjadi senjata utama yang harus dijaga, meliputi kejujuran, konsistensi, tanggung jawab, keadilan, keberanian menolak praktik koruptif, hingga kemandirian.

Perlawanan terhadap korupsi bisa dimulai dari hal sederhana, seperti jujur dalam ujian, menolak pungutan liar, hidup sederhana, dan bertanggung jawab atas setiap tindakan. Selain itu, generasi muda dapat berkontribusi melalui edukasi dan sosialisasi bahaya korupsi, bergabung dengan komunitas anti korupsi, hingga memanfaatkan teknologi untuk mendorong transparansi melalui media sosial, aplikasi pengaduan, atau akses informasi publik.

Dalam pengawasan partisipatif, generasi muda bisa mengawasi penggunaan anggaran di lingkungan sekitar, berpartisipasi dalam forum pembangunan, serta menggunakan hak pilih secara cerdas dengan memilih pemimpin berintegritas. Lebih jauh, mereka harus mampu menjadi teladan melalui prestasi tanpa korupsi, berkarya untuk bangsa, dan membangun jaringan yang saling mendukung dalam menjaga integritas.

Meski demikian, tantangan yang dihadapi tidak sedikit, seperti budaya nepotisme, tekanan ekonomi, pengaruh lingkungan yang tidak sehat, hingga rasa takut melapor. Namun dengan keberanian, integritas, dan solidaritas, generasi muda tetap bisa menjadi garda terdepan dalam menciptakan tata kelola bangsa yang bersih, akuntabel, dan transparan.

Kesimpulannya, generasi muda adalah harapan terbesar dalam membangun Indonesia bebas korupsi. Dengan menanamkan integritas, meningkatkan kesadaran, memanfaatkan teknologi, berani bersuara, dan memberi teladan nyata, Indonesia yang adil, sejahtera, dan bebas korupsi bukan hanya impian, melainkan tujuan yang bisa dicapai.

__________


MENCETAK MAHASISWA UNUSA SEBAGAI GENERASI ASWAJA AN-NAHDLIYAH
Materi yang di sampaikan oleh KH Ma'ruf Khozin - PWNU Jatim.

Mahasiswa Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (UNUSA) memiliki posisi strategis sebagai penerus tradisi keilmuan dan keagamaan Aswaja An-Nahdliyah. Hal ini karena UNUSA berafiliasi langsung dengan Nahdlatul Ulama (NU), organisasi Islam terbesar di Indonesia yang menjadikan Aswaja An-Nahdliyah sebagai pijakan ideologis. Aswaja (Ahlusunnah wal Jama’ah) berlandaskan pada Al-Qur’an, Hadis, Ijma, dan Qiyas, sedangkan corak An-Nahdliyah menekankan moderasi, toleransi, keseimbangan, dan kemaslahatan.

Sebagai generasi Aswaja, mahasiswa UNUSA berperan dalam berbagai aspek. Pertama, penjaga tradisi keilmuan, yaitu memahami dan mengamalkan khazanah klasik NU seperti kitab kuning dengan pendekatan kontekstual. Kedua, agen moderasi beragama, yakni menjadi pelopor toleransi, menolak radikalisme, serta menyebarkan Islam rahmatan lil ‘alamin melalui dialog dan aksi nyata. Ketiga, pejuang kemaslahatan sosial, dengan aktif dalam pemberdayaan masyarakat, advokasi isu kemanusiaan, hingga keterlibatan dalam kegiatan sosial berbasis NU. Keempat, inovator dalam tradisi, yaitu mengadaptasi nilai Aswaja dalam dunia modern melalui pengembangan teknologi, dakwah kebudayaan, hingga penanggulangan isu digital seperti hoaks dan radikalisme online.

Peran tersebut didukung oleh implementasi nyata di kampus. UNUSA membekali mahasiswa melalui kurikulum wajib seperti Pendidikan Agama Islam, Ke-NU-an, dan Aswaja An-Nahdliyah. Selain itu, kegiatan kemahasiswaan juga berperan penting, mulai dari majelis taklim, organisasi seperti PMII atau IPNU/IPPNU, hingga festival budaya NU yang menumbuhkan rasa cinta tradisi. Mahasiswa UNUSA pun terhubung langsung dengan kegiatan besar NU seperti muktamar, harlah, maupun program sosial di Jawa Timur.

Meski demikian, generasi Aswaja An-Nahdliyah menghadapi tantangan serius, seperti arus globalisasi yang membawa paham ekstrem, disrupsi digital yang melahirkan hoaks, serta tuntutan untuk membuktikan relevansi Aswaja sebagai solusi modern. Dalam konteks inilah mahasiswa UNUSA dituntut hadir sebagai “generasi harapan”. Mereka bukan hanya menuntut ilmu, tetapi juga menjadi kader peradaban: menginternalisasi nilai Aswaja dalam kehidupan sehari-hari, mengimplementasikan prinsip moderasi dalam masyarakat, serta mengembangkan tradisi intelektual NU untuk menjawab tantangan zaman.

Seperti pesan KH. Hasyim Asy’ari, tugas NU adalah “nguri-uri yang shalih lan ngembangke yang aswaja.” Mahasiswa UNUSA berada di garda terdepan untuk melanjutkan misi ini, menjembatani warisan ulama Nusantara dengan masa depan Indonesia yang beradab, berkeadilan, dan berkepribadian Islam.

_________

lihat juga saluran teman saya: My Digital Portofolio Hari Ke Dua

Postingan populer dari blog ini

RESUME; KEPEDULIAN TERHADAP DIGITAL MENTAL HEALTH GENERASI MUDA UNUSA MEMPERKENALKAN NOMOLITERA

RESUME MATERI PKKMB UNUSA 2025 DAY 1